OBITUARI
GAUDENTIUS VALENCIANO DARRYL WIBOWO
Lahir : 8 Januari 1991
Pergi ke rumah Bapa di Surga : 29 April 2007
Surat untuk Dai tersayang…………
Dai,……
Pada tanggal 8 Januari 1991, mama mendapat karunia luar biasa dengan melahirkan Dai di RS RKZ Surabaya. Dari ketiga anak mama, Dai yang dilahirkan dengan normal, koko Stani dilahirkan dengan divacuum, sedangkan Keten lahir dengan operasi caesar. Dai memang anak yang baik, tidak aneh-aneh, karena sewaktu dilahirkan pun Dai tidak menyusahkan mama. Malam itu, ketika pertama kali mama menatap wajah Dai yang mungil, mama langsung tahu bahwa Dai adalah permata mama, bahwa Dai akan selalu menyenangkan hati mama.
Dai,……
Hari-hari berlalu, Dai ingat tidak, pada masa-masa awal kehidupan Dai, Dai mengalami kesulitan makan? Jadi mama terpaksa harus, menyuapi Dai sesendok demi sesendok susu, meskipun dengan susah payah. Waktu itu, mama berusaha, ke dokter anak, ke dokter anak khusus spesialis pencernaan, juga ke shinse……. Akan tetapi, mereka semua bilang Dai normal saja, hanya mungkin malas makan. Makanya sekarang Dai tumbuh sebagai remaja yang langsing. Semua ini berlangsung sampai Dai berusia 2 tahun. Setelah Dai berusia 2 tahun, Dai mulai tidak malas makan, dan mau makan apa saja yang mama masak, terutama kering tempenya mama, masakan favorit Dai. Dai juga malas bicara sampai dengan usia 2 tahun awal kehidupan Dai, tapi setelah itu, Dai pandai sekali bicara, tidak lagi mengeja kata-kata, tapi langsung menggunakan kata-kata dan kalimat yang lengkap.
Dai,……
Sejak Dai kecil, Dai anak yang pendiam tetapi selalu berusaha untuk dekat-dekat dan peluk-peluk mama terus. Sampai usia Dai remaja, badan Dai selalu wangi, baunya masih sama dengan ketika Dai masih bayi. Makanya mama paling senang mencium rambutmu, pipimu, pokoknya semuanya……karena baunya wangi. Sejak kecil, Dai ingat julukan mama buat Dai ” MY LITTLE HONEY THINKER”. Karena Dai selalu memikirkan segala sesuatu dengan terperinci. (koko ”My Little baby”—-Keten ”My little swetty bunny”)
Dai,…..
Di sekolah, mama selalu bangga dengan prestasi Dai, Dai anak yang pandai, rajin, bertanggung jawab sama semua tugas-tugas sekolah, senang menolong teman yang mengalami kesusahan dalam pelajaran. Mama juga paling senang dengan permainan gitar Dai, kalau mama lagi sedih biasanya mama suka meminta Dai untuk memainkan gitar, dan biasanya mama jadi terhibur dan tidak sedih lagi……..(sekarang Dai menghibur mama dari atas sana ya)……..
Dai,……
Kesayangan mama………
Selama Dai bersama dengan mama, Dai tidak pernah mengesalkan hati mama, Dai anak yang baik. Sayang sama Koko dan Keten. Selalu peduli sama kesehatan mama, selalu bertanya apa mama sudah makan atau belum. Dan kalau jalan-jalan juga selalu, menggandeng mama, seakan-akan takut mama jauh sama Dai. Dai tidak pernah rewel, atau meminta sesuatu di luar apa yang sudah menjadi kebutuhan Dai. Dai tidak pernah mengeluh, bahkan ketika Dai sedang sakitpun, Dai tidak rewel. Kalau mama meminta Dai untuk melakukan sesuatu, Dai tidak pernah berpikir panjang, langsung melaksanakan apa yang mama minta. Pokoknya selama 16 thn ini, mama begitu berbahagia bisa bersama-sama dengan Dai………
Dai,…….
Kesayangan mama……..
Pada hari selasa malam tgl 24 April, ketika kita makan malam bersama, Dai bilang sama kita semua, ” Ma, terima kasih ya sudah sayangi Dai, Pa makasih ya sudah sayangi Dai, koko dan Keten juga,” Mama tidak menyadari kalau saat itu, Dai sudah pamit mau pergi.
Rabu malam, tgl 25 April, mama mencium selamat malam dan selamat bobo buat Dai, mama sudah melihat kalau pandangan mata Dai sudah kosong, tapi waktu itu mama berpikir mungkin Dai sudah ngantuk.
Kamis dini hari tgl 26 April, sekitar jam 00.30, Dai pergi kencing ke kamar mandi, tapi koq tidak balik lagi ke kamar,tapi malahan sedang duduk di closet, mungkin waktu itu Dai sudah mulai hilang kesadaran, karena ketika ditanya sama papa, Dai menjawab,” Sedang menunggu hasil futsal.”
Pagi-pagi sekali papa dan mama langsung membawa Dai ke RS SILOAM KARAWACI. DI UGD Rumah Sakit, dokter langsung tahu bahwa kemungkinan besar Dai kena radang selaput otak, karena ketika kepala Dai ditekuk ke arah dada, tidak bisa. Saat itu juga Dai diperiksa oleh dua dokter yaitu Dr Benyamin Lukito (internist) dan Dr. Yusak Siahaan (Ahli syaraf). Dan dari hasil CT-Scan otak, diketahui bahwa memang ada pembengkakan yang lumayan besar di otak Dai. Waktu itu, mama ingin sekali bertanya ke Dai,”apakah Dai merasa sakit?”, tetapi waktu itu Dai sudah tidak dapat berkomunikasi lagi karena sudah tidak sadar, mama tidak akan pernah tega dan mau, kalau Dai sampai merasakan sakit, sekecil apapun rasa sakit itu. Para dokter meyakinkan mama kalau Dai tidak merasa sakit sejak mulai hari Kamis sampai dengan minggu, karena sudah diberi obat penahan sakit dosis tinggi.
(Dai, masih ingat tidak meskipun Dai sudah tidak sadar, Dai selalu berusaha untuk menggerakkan tanganmu untuk memeluk mama setiap kali Dai mendengar suara mama mendekat????????)
Karena kondisi Dai yang kurang baik, maka Dai harus masuk ke ICU, karena harus dimonitor terus menerus, namun pada waktu itu, ICU dan HIGH CARE RS SILOAM penuh semua, jadi papa usaha mencari ICU di RS lain, akhirnya papa dapat di RS HONORIS, hanya saja ketika Dai sudah mau dipindahkan, ambulance RS SILOAM nya tidak tersedia, setelah ditunggu, ambulance nya datang, giliran sopir ambulancenya yang tidak ada. Namun setelah ditunggu beberapa saat, ternyata Dai memperoleh kamar di HIGH CARE RS SILOAM, jadi papa dan mama tidak jadi memindahkan Dai ke RS lain.
Jam 16.00, teman-teman Dai dari X-6 sudah mulai berdatangan membesuk Dai, bersama dengan Ibu Juni, Miss Eva dan P.Simon. Kami semua berdoa bersama-sama untuk kesembuhan Dai. Teman-teman juga menuliskan surat singkat untuk Dai.
Jam 18.00, hasil pengambilan sumsum tulang belakang Dai sudah keluar dan Dai positip kena meningitis purulenta, hanya saja cairan sumsum tulang belakangnya masih jernih, belum keruh. Dokter menawarkan pengobatan yang nomor satu yaitu dengan obat meronem 2 mg yang mahal sekali.
Mama dan papa langsung menyetujui, pemberian obat itu untuk Dai, karena mama mau Dai pulang ke rumah lagi dengan sehat. Hari kamis ini dilalui dengan keadaanmu yang stabil. Tetapi tetap dalam keadaan tidak sadar.
Jumat tgl 27 April, mama dan papa berencana untuk membawa Dai ke Singapore, akan tetapi mengingat kondisi Dai yang kurang baik untuk dapat melakukan penerbangan ke Singapore, maka diputuskan untuk tetap meneruskan perawatan Dai di RS SILOAM. Mulai jam 14.00, Dai sudah mulai kejang-kejang, dan jantung Dai sempat melemah. Mama selalu ada di sebelah Dai, dari mulai kejang Dai yang pertama kali. Dokter memberikan obat anti kejang, tetapi Dai masih terus kejang, sampai obatnya di lipatgandakan tetap saja tidak menolong, kejangnya tidak berhenti. Dengan sangat terpaksa diambil tindakan, untuk menidurkan Dai, karena kalau terus menerus kejang maka asupan oksigen ke otak akan terganggu, sehingga Dai harus mendapatkan bantuan pernafasan melalui mesin, agar asupan oksigen ke otak menjadi lancar kembali. Karena keadaan Dai terus memburuk, maka diputuskan untuk memindahkan Dai ke ICU, yang ruang perawatannya lebih lengkap lagi, di ruang ICU, Dai sudah memerlukan semua peralatan untuk memfungsikan organ-organ pentingnya, seperti jantung, pernafasan dll……karena organ-organ tersebut harus tetap dijaga fungsinya..
Mama, Ai dan Mami Esa langsung mencarikan pastur agar Dai dapat menerima Sakramen perminyakan. Akhirnya, pastur datang dari BSD. Karena pemindahan Dai dari ruang HIGH CARE ke ICU, maka Dai memerlukan beberapa tindakan dulu, seperti pemasangan alat-alat, pemasukkan slang infus ke jantung dll…..maka memerlukan waktu beberapa saat. Sayang sekali, Pastur ini tidak sabar menunggu, dia minta pulang. Tidak disangka, begitu Pastur sampai di Lobi RS, suster memberitahukan bahwa Dai sudah selesai diambil tindakan jadi boleh menerima Sakramen, mama cepat-cepat memberi tahukan Pastur tsb, supaya naik lagi ke atas, ternyata pastur itu dengan entengnya menjawab,” Saya tidak mau naik lagi, cari saja pastur yang lain”. Ada saja orang yang demikian tega ya Dai………………….
Tapi Dai jangan takut, selama Dai di RS, mulai hari Kamis sampai dengan Minggu, mama, papa, koko, Keten, oma, para romo, suster-suster, frater-frater, para guru, teman-teman Dai, saudara-saudara serta semua orang yang pernah mengenal dan menyayangi Dai, kami semua tidak berhenti berdoa. Dai juga dimintakan ujud misa di beberapa gereja, untuk kesembuhan Dai.
Sabtu tgl 28 April, Pagi-pagi sekali, Ai dan mami Esa, bisa mencarikan pastur Ishak, dan akhirnya Dai bisa menerima Sakramen perminyakan suci. Pada sekitar pukul 11.00, mama diberitahu, bahwa kondisi Dai semakin menurun, dan otak Dai semakin membesar saja dan sudah menekan batang otak. Jadi dokter Eka (Ahli bedah syaraf) menawarkan kemungkinan terakhir, untuk menyelamatkan Dai, yaitu dengan cara membuka tempurung kepala Dai, agar otak Dai bisa bernafas, kalau tidak dibuka maka Dai bisa lebih cepat pergi meninggalkan mama, dan otak Dai bisa jatuh ke belakang leher. Maka, mama dan papa memutuskan untuk menyetujui saran dokter, karena biar bagaimanapun, mama dan papa ingin berusaha semaksimal mungkin untuk bisa terus bersama-sama Dai. Dan diputuskan untuk sesegera mungkin Dai dioperasi (jam11.00), Dai tahu, teman-teman Dai banyak sekali yang menunggu selama Dai dioperasi, sampai-sampai lorong di ICU penuh dengan teman-teman Dai.
Jam 14.30, operasi Dai selesai, namun hasilnya tidak seperti yang kita harapkan semua, ternyata bakteri purulentanya jahat sekali, semua pengobatan yang sudah dilakukan sejak hari Kamis, tidak ada yang berkesan di dalam otak Dai, bahkan kumannya sudah mengenai batang otak. (begitu yang diberitahukan oleh dr. Hasan, Ahli bedah).
Minggu tgl 29 April, jam 14.00, mama dan papa diberitahukan, bahwa kondisi Dai sudah semakin memburuk, semua respon di tubuh Dai sudah tidak ada, Dai, sudah betul-betul bertahan hanya dengan mesin saja. Mama, papa, koko, dan Keten sudah pamitan mengantarkan kepergian Dai,di samping ranjang Dai, meskipun dengan berat hati, ALL FOR ONE- ONE FOR ALL, kita kan sempat mengucapkan itu. Perkiraan dokter, Dai pergi jam 21.00, akan tetapi sekitar jam 17.00 (Jam yang sama seperti kita biasa misa bersama di gereja) mama, papa, koko, Keten diberitahu untuk masuk ke ruang ICU, dan kami semua mengantar kepergian Dai persis jam 17.06……………..
Malam itu juga Dai dipindahkan ke rumah duka Dharmais.
Dai,…..
Kesayangan mama,……
Dai tahu, selama di rumah duka, banyak sekali orang yang bersimpati datang mengunjungi Dai, teman-teman Dai, para suster dan para guru mulai dari guru TK, SD, SMP, SMA, teman-teman papa, mama, koko, Keten, bahkan dosen – dosen koko juga ikut datang. Bunganya juga sangat indah menghiasi peti Dai. Selama 3 hari, Dai selalu menerima misa yang sungguh menyentuh hati, yaitu misa penutupan peti oleh Rm. Celsius, misa penghiburan oleh Rm. Ishak, misa pelepasan jenasah dan ibadat di makam oleh Rm. Piter (bahkan Rm. Ishak hadir lagi pada misa pelepasan jenasah). Mama juga selalu ada di sisi peti Dai selama 3 hari Dai di rumah duka, tidak pernah mama meninggalkan Dai. Meninggalkan Dai hanya untuk pergi mandi dan ke toilet., tetapi mama selalu memanggil orang lain untuk menggantikan mama menjaga Dai selama mama mandi dan ke toilet.
Mama juga ingin menceritakan pada Dai, begitu banyak orang yang mengantar Dai ke pemakaman di San Diego Hills. Sampai-sampai Pak Supir ambulance mengatakan pada koko dan Keten,” Ini merupakan rombongan iring-iringan terbesar yang pernah saya bawa, dengan jumlah 20 mobil pribadi dan 2 buah bis besar yang terisi penuh.”
Dai,…..
Kesayangan mama…….
Mama sengaja memilih San Diego Hills sebagai tempat Dai beristirahat karena tempatnya sangat mewah, dan papa sudah memilihkan lokasi yang sangat bagus menghadap ke danau. Dai jangan takut, papa langsung membeli 3 kavling, Dai di tengah-tengah, jadi nanti bila saatnya tiba, mama dan papa bertemu dengan Dai lagi, mama dan papa sudah booking di sebelah kanan dan kiri Dai.
Dai,……
Permata mama, kesayangan mama……
Dai akan papa, mama, koko, Keten kenang dengan penuh kasih. Semua kebaikan, kelembutan, perhatian, kasih sayang Dai, buat papa, mama, koko dan Keten akan kami simpan dalam hati. Kami tidak pernah melupakan Dai. Semua benda-benda pribadi, foto-foto Dai akan mama simpan……………
Buat mama Dai anak yang luar biasa…………PERFECT
Dai,…….
Permata mama, kesayangan mama……
Mama janji tidak akan nangis lagi, dan mama akan menjaga papa, koko dan Keten, sampai koko dan Keten berhasil dalam hidupnya. Sampai tiba masanya nanti kita ketemu lagi……….
Dai,…….
Permata mama, kesayangan mama…..
Beribu-ribu cium buat Dai…………..
Selalu sayang Dai,……..
Mama
Kami yang mencintai Dai:
- Antonius Wibowo ( Papa )
- Ineke Hasan ( Mama )
- Stanislaus Natanael Hugo Wibowo ( Koko )
- Wenzeslaus Avelino Clayton Wibowo ( Adik )
Tuesday, October 02, 2007
Tags: Ineke Hasan, Obituari