Archive for the ‘Budaya’ Category
semasa kita dan mereka masih hidup.
April 19, 2008Menyoal Tionghoa (2)
January 19, 2008Dua kawan lama melanjutkan obrolannya
Q: pertanyaan selanjutnya – konon sekarang sudah tidak diperlukan lagi surat ganti nama
mohon review sekilas suka-duka hidup masyarakat Tionghoa sebelum dan sesudah reformasi – singkat saja
A:Surat Ganti Nama dulu diperlukan karena adanya kebijakan dari Orba untuk melarang semua hal yang berbau China (aksara China, bahasa China, sekolah China, koran China, budaya China bahkan orang2nya mungkin) sejak 1966, sebagai implikasi dari adanya Poros Jakarta Beijing (masa PKI dulu).
Tujuan awalnya sich mulia agar orang2 China Perantauan yang ada di Indonesia dapat melepaskan ikatan batin dengan tanah Leluhur, dan adaptasi dengan lingkungan di Tanah air serta berbaur dengan berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia melalui asimilasi. Hanya caranya dipaksakan dan dengan asimilasi tekanan.
Cuma dalam prakteknya semua dilakukan dibawah tekanan hukum dan peraturan.
Setelah sekolah China dan sekolah berbahasa China ditutup dan dilikuidasi, koran2 China juga dilarang beredar, akibatnya para peranakan China tidak bisa dan kenal dengan bahasa China (mandarin, hokian, ke atau kanton). Selanjutnya kepercayaan atau paham KHC tidak diakui, kegiatan di Vihara2 China (sebenarnya beda dengan Vihara Budha) dilarang. Selanjutnya agar tidak tampak beda, dari segi namapun harus diganti, dari nama 3 huruf harus diubah menjadi nama yang dikenal dan gampang dilafalkan oleh orang2 sekitarnya.
Pada dasarnya peraturan dan hukum ini berlaku di seluruh Indonesia, cuma pelaksanaannya yang pertama kali dan keras dijalankan adalah di Jakarta dan Jawa Barat, dan sebagian pantura Jawa Tengah. Karenanya tidak akan heran bila orang2 China yang ada di wilayah P Jawa bagian Barat banyak yang sudah berganti nama dan tidak bisa lagi berbahasa China untuk generasi kelahiran 1964-1966an keatas Beda dengan mereka yang ada di Jawa Tengah Semarang ke Timur sampai Jawa Timur dan Jawa Tengah bagian tengah sampai selatan dan seluruh daerah di Luar Jawa. Mereka masih memelihara tradisi tersebut secara total.
Pada saat peraturan ini pertama kali diterapkan sambutannya menurut ortu cukup besar baik itu karena kesadaran, setengah paksaan atau dengan paksaan. Tapi menurutku pasti cukup besar karena dalam diri dan hati mereka pasti ada kerinduan agar keberadaan mereka di akui oleh negara dan masyarakat, setelah sekian lama ada di perantauan dan melalui berbagai masalah yang terkait dengan status mereka tersebut.
Sedangkan berdasarkan pengalaman pribadi diriku sendiri, sejak mulai sekolah dengan memakai nama baru trus sampai sma dan kuliah, aku merasa biasa2 saja. Sepeerti tidak ada hal2 yang perlu ditampilkan. Dalammkehidupan sehari2 juga demikian. Cuma bila harus berurusan dengan instansi swasta maupun pemerintah, pasti lah mereka akan meminta semua surat atau dokumen yang terkait dengan status ku meski aku adalah WNI (seperti SKBRI, Akte Lahir, dan Surat Ganti Nama), yang untuk legalisir pasti UUD juga.
Aku mulai mengalami rasa bangga dan sedikit menyesal sejak SMA, yaitu bangga bahwa aku terlahir sebagai China masih mempunyai nama 3 huruf itu, meski juga saya menyesal saya tidak tau bagaimana bentuk huruf asli dari 3 huruf namaku. Aku juga menyesal kenapa aku dulu tidak diajarkan baca-tulis dan bicara bahasa China (minimal Hokian).
Yang pasti dalam diriku sendiri dan menurut pengalaman diriku (mungkin teman2ku segenerasi denganku), aku sudah tercabut dari budaya China, meski tidak tercabut total.
Masa Orba, sepertinya semua bidang tertutup untuk China. Untuk sekolah di sekolah negeri dibatasi, di Univ apalagi. Jadi tidak heran saat2 itu banyak yang bersekolah di swasta, atau ke LN. Sebenarnya bila menurut proses asimilasi dan adaptasi yang sebenarnya ingin dijalankan tidak terjadi. Malah mungkin kesan eksklusif. Bidang yang bisa dimasuki cuma ekonomi dan sosial. Lainnya terbatas sekali bahkan tertutup.
Sebenarnya, sebelum kejadian Mei 1998 terjadi, dalam diri orang2 China selalu terbalut kekawatiran akan terjadi kekacauan rasial seperti itu. Sebab sejak awal pelaksanaan peraturan diskriminasi itu, memang selalu ditiup2 masalah kesenjangan, masalah eksklusif dan sebagainya yang ujung2nya dengan sasaran orang2 china.
Hal mana tidak terjadi bila mereka itu adalah keturunan India, Pakistan atau pun Arab.
Setelah reformasi, memang ada banyak perubahan. Tidak drastis tapi minimal sudah ada penerimaan. Maksudnya eksistensi orang China perantauan di Indonesia memang ada dan diakui.Kemampuan orang China di bidang ekonomi diakui, (mereka juga mengalami metamorphosa bila sebelum kemelut Mei 1998 ingat tidak bila selalu dikaitkan dengan adanya penimbunan bahan pangan (beras, terigu, minyak goreng dsb) sehingga terjadi lonjangan harga karena pada saat itu mereka emang banyak bergelut di bidang sembako baik grosir maupun retail.tapi sekarang ini sudah banyak non China yang terjun di bidang sembako baik retail maupun grosir, sedangkan orang China bila masih ada di bidang sembako atau hasil bumi bermain di tingkat pedagang besar/distibutor ataupun importir dan masuk ke bidang2 lain TI, konsultan, pabrikan dsb)
Masuk ke politik bukan hal tabu lagi (dulu bila kita2 bicara hal2 politik selalu diam2 dan bisik2), ke militer mungkin sudah terbuka tapi aku belum lihat ada perubahan mungkin 10-20 tahun lagi. Semua hal2 yang terkait China terbuka lebar. Bahasa mandarin mulai digunakan secara terbuka, di glodok, mangga dua atau di pasar pagi sudah seperti bukan di Indonesia. Kursus Mandarin banyak, sekolah menggunakan bahasa mandarin sudah ada. Koran mandarin sudah beredar. Budaya China dibangkitkan kembali. Yang pasti terdapat eforia dengan hal2 yang berbau China.
Apalagi sekarang Sang Naga sudah bangun dari tidur panjangnya. Yang setiap geliatnya bikin panas dingin ekonomi global.
Menyoal Tionghoa (1)
January 19, 2008Obrolan dua kawan lama
Q: saya mau tanya soal budaya
citra orang tionghoa adalah – pekerja keras dan suka menabung
namun beberapa teman saya lihat sempat jalan2 keluar negeri
artinya : spending money
lantas bagaimana ini dipahami dalam konsep bahwa orang tionghoa itu gemar menabung
dengan kata lain – kapan orang tiongoa memandang adalah legitimate untuk spending some money ? apa kriterianya ?
mohon maaf kalau pertanyaan tidak berkenan
saya tidak punya maksud negatip
A:
kamu mungkin karena terlalu men-generalisir saja. Sebenarnya kalau aku perhatiaan semua orang melakukan hal sama juga kok
Ini menurut pandangan aku sendiri ya bukan pandangan dari sudut orang2 tionghoa umumnya. Sebab mungkin iya mungkin juga tidak.
1. Kita, maksudnya aku dididik untuk bekerja keras. Kalo mau dapat sesuatu harus kerja, harus bersaing. Itu yang aku rasakan dulu. Trus setiap hasil yang aku dapat mesti aku hargai, karenanya terkadang muncul rasa bangga dan sebagainya.Dan tidak boleh terbuang dengan percuma/sia2. Dari kecil, sepertinya sudah diajarkan terminologi “KERJA”, tentu saja dengan berbagai variasi dan bentuk dari kata “KERJA” itu.
2. Aku selalu mendengar dari omong2 ortuku dan dari kakek/nenekku, hidup aku harus lebih baik dari ortu/kakek/nenek. Karenanya mereka menabung untuk biaya sekolah/usaha yang dapat menjamin hidup aku nantinya. Di samping aku sendiri mesti menjalankan hal no 1 diatas. Jadi kondisi ini mengkondisikan aku untuk aku sendiri nantinya.
3. Harus selalu hidup prihatin. Maksudnya selagi kita mampu dan kuat untuk bekerja, kita mesti bekerja dengan sungguh2. Hasil yang kita dapatkan jangan dihabiskan pada hari itu juga, tapi disisihkan untuk untuk besok atau nanti. Jadi hasil hari ini tidak habis semua pada hari ini juga, sebagaian disimpan seberapa pun kecilnya. Cuma terkadang akhirnya akan tampak sia2, maksudnya ; saat muda dan sedang sehat2nya mungkin banyak dan hanya makan sayuran/tahu/tempe dan sedikit daging, trus tdk pernah tour/piknik, begitu sudah setengah baya/tua dan kaya, dimana kesehatan sudah menggerogoti sudah tidak mungkin lagi makan makanan yang enak2, sudah tidak mungkin untuk bepergian jauh2 dan mungkin sudah tidak bisa atau tidak kuat jalan.
4. Kalau mereka tersebut, adalah pedagang, mempunyai toko dan sejenisnya; ketiga hal tersebut akan tampak jelas sekali. Lalu bagaimana dengan yang bekerja atau jadi karyawan juga akan terlihat cuma dengan tampilan yang berbeda. Maksudnya, kalau itu pedagang/pemilik usaha, mereka dihadapakan pada situasi yang tidak menentu akan hasil akan didapat hari ini, karena mereka akan menerapkan 3 hal tersebut. Bila mereka itu karyawan yang sudah mendapatkan penghasilan yang tetap, mereka akan berusaha untuk mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi satu atau lebih dari ke 3 hal tersebut.
5. Selainitu juga perbedaan latar belakang. Bila mereka dilahirkan dari ortu yang kaya tentu akan berbeda persepsi akan hal2 mengenai prihatin dan kesejahteraan, meski mempunyai tujuan hidup, cita2 dan masa depan yang sama dengan mereka dilahirkan dilahirkan dari orang kebanyakan atau miskin.
Jadi, memang terkadang tampak kontradiksi katanya suka menabung dan kerja keras, tapi suka belanja dan kerjanya hanya jalan2.Semuanya itu adalah mix dari mungkin2 hal2 tersebut diatas.
1. Benar mereka bekerja keras dan berusaha keras dalam usaha dan pekerjaan, untuk mandapatkan hasil yang lebih. Hasil yang didapat mereka tabungkan demi cita2 dan impian yang ingin mereka wujudkan. Biasanya cita2/impian pertama yang ingin mereka wujudkan kali pertama rumah, kendaraan, pendidikan anak2 terjamin, selanjutnya menpunyai usaha untuk menjamin hari esok. Untuk hal2 tersebut, mereka sudah mulai menabung bahkan mungkin sejak masa pacaran untuk biaya pernikahannya. Bila, pada satu tahapan sudah tercapai, dan ada lebih dana , biasanya kelebihan itu sebagian akan dibelanjakan untuk senang2 atau sejenisnya.
2. Dari no 1 diatas sebelumnya terkadang kita perlu appreaciate untuk diri kita sendiri untuk hasil yang kita capai pada tahap tertentu. Tentu juga sekarang kita juga mengantisipasi no 3 di atas, karenanya di setiap sela waktu atau jeda atau saat liburan atau apapun namanya melakukan kegiatan yang sifatnya spending money.
Oh iya ada satu hal lagi atau dengan kata lain :.
Bila terkait dengan pekerjaan atau usaha atau apalah namanya, uang Rp 1,- pun akan dipermasalahan. Dan setiap Rp1,- kalau perlu ditabung ya mesti ditabung.
Tapi bila sifatnya menrupakan appreciate biasanya untuk diri kita sendiri, keluarga inti kita, keluarga besar atau orang2 terdekat, spending money berapapun ok (tentu akan sanagt tergantung dengan kemampuan financial dari mereka ybs).
Seebenarnya, keadaan seprti ini ada dan tampak di semua orang tidak memandang SARA. Mungkin ada kondisi yang menjadikan hal tersebut.
Sori kalau ada tulisan saya terkesan negatif. Semua ini cuma dari sudut pandanganku saja dengan lingkungan yang kecil. Mungkin saja tidak demikian.